SANGGAU - MBN, Rohaela (35), seorang janda asal Lampung bersama tiga orang anaknya mendatangi Polsek Tayan Hilir (18/8/2026) untuk minta perlindungan karena terlantar di Simpang ampar setelah menyelamatkan diri dari kem penambang emas di Tumbang Titi Ketapang.
Niat memperbaiki kehidupan justru berujung nestapa. Ia mengaku terlantar di Kalimantan Barat setelah mendapat janji pekerjaan dengan gaji besar, pernikahan, serta jaminan pendidikan bagi ketiga anaknya.
Seseorang yang merupakan calon suami Rohaela sebelumnya menjanjikan dirinya bekerja di Kalimantan dengan penghasilan yang layak. Selain pekerjaan, ia juga dijanjikan akan dinikahi setelah tiba di Kalimantan Barat. Ketiga anaknya bahkan disebut akan disekolahkan.
Namun, kenyataan yang dihadapi jauh berbeda. Setibanya di Kalimantan Barat, Rohaela justru dipekerjakan sebagai tukang masak di sebuah camp pertambangan emas di kawasan pedalaman Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang.
Alih-alih menerima gaji besar seperti yang dijanjikan, ia hanya memperoleh upah sekitar Rp1,5 juta per bulan. Sementara janji pernikahan dan pendidikan untuk ketiga anaknya tidak kunjung terealisasi.
Rohayela mengaku bertahan sekitar dua bulan di lokasi PETI tersebut, yang akhirnya memberanikan diri meninggalkan camp bersama ketiga anaknya. Dengan kondisi serba terbatas, mereka berjalan kaki selama kurang lebih 12 jam hingga akhirnya menemukan akses jalan raya.
Dari jalan raya, Rohaela dan anak-anaknya mendapat tumpangan kendaraan menuju Pontianak. Namun, karena uang yang dimilikinya hanya tersisa sekitar Rp400 ribu, pengemudi kemudian menurunkan mereka di kawasan Simpang Ampar, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.
Dalam kondisi kebingungan dan tidak mengetahui harus meminta pertolongan kepada siapa, Rohaela bersama ketiga anaknya kemudian mendatangi Polsek Tayan Hilir minta perlindungan.
Kedatangan mereka langsung mendapat perhatian personel kepolisian. Polisi memberikan pendampingan dan memastikan Rohaela bersama anak-anaknya berada di tempat yang aman.
Kapolsek Tayan Hilir Iptu Dr. Kusdarwanto, S.H., M.H., mengatakan pihaknya berupaya memberikan bantuan semaksimal mungkin sesuai kemampuan, termasuk membantu mempersiapkan kepulangan mereka ke daerah asal.
“Kami berupaya hadir dan membantu semaksimal mungkin sesuai kemampuan, mulai dari memberikan pendampingan hingga membantu mempersiapkan perjalanan mereka untuk kembali ke daerah asal. Ini merupakan bagian dari semangat Polres Sanggau Berkarakter HEBAT untuk memberikan pelayanan yang humanis, peduli dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Iptu Kusdarwanto.
Sebagai bentuk kepedulian, Polsek Tayan Hilir membantu membelikan tiket kapal laut bagi Rohaela dan ketiga anaknya untuk kembali ke Lampung.
Tidak hanya itu, polisi juga mencarikan pekerjaan sementara bagi Rohaela di sebuah rumah makan milik warga selama empat hari. Upaya tersebut dilakukan agar Rohaela memperoleh tambahan uang saku untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan pulang.
Sementara itu, Kapolsek Tayan Hilir belum menjelaskan identitas calon suami Rohaela maupun status legalitas camp pertambangan emas tempat korban sebelumnya bekerja di kawasan Tumbang Titi.
Kusdarwanto menegaskan, kehadiran kepolisian tidak semata-mata berkaitan dengan penanganan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi juga berupaya hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan dan membutuhkan pertolongan.
“Kehadiran polisi tidak hanya memberikan rasa aman dan menjaga kamtibmas, tetapi juga menjadi tempat masyarakat memperoleh pertolongan ketika menghadapi situasi sulit,” pungkasnya.
Kisah Rohaela menjadi pengingat agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan maupun janji kehidupan yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Sumber: Polsek Tayan Hilir
